Tata Cara Pelaksanaan Umrah

Diposting pada

Umroh Desember – Tata Cara Pelaksanaan Umrah

Pertama:
Jika seseorang dapat laksanakan umrah, dianjurkan untuk menyiapkan diri sebelum berihram bersama dengan mandi sebagaimana seorang yang mandi junub, kenakan parfum yang terbaik jika tersedia dan kenakan pakaian ihram.

Kedua:
Pakaian ihram bagi laki-laki berupa dua lembar kain ihran yang berfungsi sebagai sarung dan penutup pundak. Adapun bagi wanita, ia kenakan pakaian yang udah disyari’atkan yang menutupi semua tubuhnya. Namun tidak dibenarkan kenakan cadar/ niqab (penutup wajahnya) dan tidak dibolehkan kenakan sarung tangan.

Ketiga:
Berihram dari miqat untuk bersama dengan mengucapkan:
لَبَّيْكَ عُمْرَةً
“labbaik ‘umroh” (aku memenuhi panggilan-Mu untuk menunaikan ibadah umrah).

Keempat:
Jika khawatir tidak mampu menyelesaikan umrah gara-gara sakit atau ada penghalang lain, maka dibolehkan mengucapkan kriteria setelah mengucapkan kalimat di atas bersama dengan mengatakan,
اللَّهُمَّ مَحِلِّي حَيْثُ حَبَسْتَنِي
“Allahumma mahilli haitsu habastani” (Ya Allah, daerah tahallul di mana saja Engkau menahanku).
Dengan mengucapkan kriteria ini—baik dalam umrah maupun saat haji–, jika seseorang terhambat untuk menyempurnakan manasiknya, maka dia diperbolehkan bertahallalul dan tidak harus membayar dam (menyembelih seekor kambing).

Kelima:
Tidak tersedia alat spesifik untuk berihram, namun jika bertepatan bersama dengan waktu shalat wajib, maka shalatlah selanjutnya berihram setelah shalat.

Keenam:
Setelah mengucapkan “talbiah umrah” (pada poin ketiga), dilanjutkan bersama dengan membaca dan memperbanyak talbiah tersebut ini, sambil mengeraskan suara bagi laki-laki dan lirih bagi perempuan hingga tiba di Makkah:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَك لَبَّيْكَ ، إنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَك وَالْمُلْكَ لَا شَرِيكَ لَك
“Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syariika laka labbaik. Innalhamda wan ni’mata, laka wal mulk, laa syariika lak”. (Aku menjawab panggilan-Mu ya Allah, saya menjawab panggilan-Mu, saya menjawab panggilan-Mu, ga ada sekutu bagi-Mu, saya menjawab panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan dan kekuasaan cuma milik-Mu, ga ada sekutu bagi-Mu).

Ketujuh:
Jika memungkinkan, seseorang dianjurkan untuk mandi sebelum masuk kota Makkah.

Kedelapan:
Masuk Masjidil Haram bersama dengan mendahulukan kaki kanan sambil membaca doa masuk masjid:
اللَّهُمَّ افْتَحْ لِى أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ.
“Allahummaf-tahlii abwaaba rohmatik” (Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu).

Kesembilan:
Menuju ke Hajar Aswad, selanjutnya menghadapnya sambil membaca “Allahu akbar” atau “Bismillah Allahu akbar” selanjutnya mengusapnya bersama dengan tangan kanan dan menciumnya. Jika tidak sangat mungkin untuk menciumnya, maka lumayan bersama dengan mengusapnya, selanjutnya mencium tangan yang mengusap hajar Aswad. Jika tidak sangat mungkin untuk mengusapnya, maka lumayan bersama dengan berikan tanda kepadanya bersama dengan tangan, namun tidak mencium tangan yang berikan isyarat. Ini dijalankan pada tiap-tiap putaran thawaf.

Kesepuluh:
Kemudian, mengawali thawaf umrah 7 putaran, di awali dari Hajar Aswad dan berakhir di Hajar Aswad pula. Dan disunnahkan berlari-lari kecil pada 3 putaran pertama dan berlangsung biasa pada 4 putaran terakhir.

Kesebelas:
Disunnahkan pula mengusap Rukun Yamani pada tiap-tiap putaran thawaf. Namun tidak dianjurkan mencium rukun Yamani. Dan sekiranya tidak sangat mungkin untuk mengusapnya, maka tidak harus berikan tanda bersama dengan tangan.

Keduabelas:
Ketika berada di pada Rukun Yamani dan Hajar Aswad, disunnahkan membaca,
رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Robbana aatina fid dunya hasanah, wa fil aakhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” (Ya Rabb kami, karuniakanlah pada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan juga selamatkanlah kami dari siksa neraka). (QS. Al Baqarah: 201)

Ketigabelas:
Tidak tersedia dzikir atau bacaan spesifik pada waktu thawaf, tak sekedar yang disebutkan pada no. 12. Dan seseorang yang thawaf boleh membaca Al Qur’an atau do’a dan dzikir yang ia suka.

Keempatbelas:
Setelah thawaf, menutup ke-2 pundaknya, selanjutnya menuju ke makam Ibrahim sambil membaca,
وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى
“Wattakhodzu mim maqoomi ibroohiima musholla” (Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim daerah shalat) (QS. Al Baqarah: 125).

Kelimabelas:
Shalat sunnah thawaf dua raka’at di belakang Maqam Ibrahim, pada rakaat pertama setelah membaca surat Al Fatihah, membaca surat Al Kaafirun dan pada raka’at ke-2 setelah membaca Al Fatihah, membaca surat Al Ikhlas.

Keenambelas:
Setelah shalat disunnahkan minum air zam-zam dan menyirami kepada dengannya.

Ketujuhbelas:
Kembali ke Hajar Aswad, bertakbir, selanjutnya mengusap dan menciumnya jika hal itu sangat mungkin atau mengusapnya atau berikan tanda kepadanya.

SA’I UMRAH

Kedelapanbelas:
Kemudian, menuju ke Bukit Shafa untuk laksanakan sa’i umrah dan jika udah mendekati Shafa, membaca,
إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ
“Innash shafaa wal marwata min sya’airillah” (Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah) (QS. Al Baqarah: 158).
Lalu mengucapan,
نَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللَّهُ بِهِ
“Nabda-u bimaa bada-allah bih”.

Kesembilanbelas:
Menaiki bukit Shafa, selanjutnya menghadap ke arah Ka’bah hingga melihatnya—jika hal itu memungkinkan—, kemudian membaca:
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ (3x)
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ
“Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar. (3x)
Tiada sesembahan yang berhak disembah jika cuma Allah semata, tidak tersedia sekutu bagi-Nya. Milik-Nya lah segala kerajaan dan segala pujian untuk-Nya. Dia yang menghidupkan dan yang mematikan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.
Tiada sesembahan yang berhak disembah jika cuma Allah semata. Dialah yang udah laksanakan janji-Nya, membantu hamba-Nya dan mengalahkan tentara sekutu bersama dengan sendirian.”

Keduapuluh:
Bacaan ini diulang tiga kali dan berdoa di pada pengulangan-pengulangan itu bersama dengan do’a apa saja yang dikehendaki.

Keduapuluhsatu:
Lalu turun dari Shafa dan berlangsung menuju ke Marwah.

Keduapuluhdua:
Disunnahkan berlari-lari kecil bersama dengan cepat dan nyata-nyata di pada dua tanda lampu hijau yang beada di Mas’a (tempat sa’i) bagi laki-laki, selanjutnya berlangsung biasa menuju Marwah dan menaikinya.

Keduapuluhtiga:
Setibanya di Marwah, kerjakanlah apa-apa yang dijalankan di Shafa, yaitu menghadap kiblat, bertakbir, membaca dzikir pada no. 19 dan berdo’a bersama dengan do’a apa saja yang dikehendaki, perjalanan (dari Shafa ke Marwah) dihitung satu putaran.

Keduapuluhempat:
Kemudian turunlah, selanjutnya menuju ke Shafa bersama dengan berlangsung di daerah yang ditentukan untuk berlangsung dan berlari bagi laki-laki di daerah yang ditentukan untuk berlari, selanjutnya naik ke Shafa dan laksanakan layaknya semula, bersama dengan demikianlah termasuk dua putaran.

Keduapuluhlima:
Lakukanlah hal ini hingga tujuh kali bersama dengan berakhir di Marwah.

Keduapuluhenam:
Ketika sa’i, tidak tersedia dzikir-dzikir tertentu, maka boleh berdzikir, berdo’a, atau membaca bacaan-bacaan yang dikehendaki.

Keduapuluhtujuh:
Jika membaca do’a ini:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ الأَعَزُّ الأَكْرَمُ
“Allahummaghfirli warham wa antal a’azzul akrom” (Ya Rabbku, ampuni dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa dan Maha Pemurah), tidaklah mengapa gara-gara udah diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud dan ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya mereka membacanya saat sa’i.

Keduapuluhdelapan:
Setelah sa’i, maka bertahallul bersama dengan memendekkan semua rambut kepala atau mencukur gundul, dan yang mencukur gundul itulah yang lebih afdhal. Adapun bagi wanita, lumayan bersama dengan memotong rambutnya selama satu ruas jari.

Keduapuluhsembilan:
Setelah memotong atau mencukur rambut, maka berakhirlah ibadah umrah dan Anda udah dibolehkan untuk mengerjakan hal-hal yang tadinya dilarang saat dalam keadaan ihram.

Demikianlah ringkasan amalan umrah yang merupakan fungsi dari Buku “Petunjuk Praktis Manasik Haji dan Umrah”, penulis Abu Abdillah, terbitan Darul Falah.

Preparing one day before umroh, 4 Dzulqo’dah 1431 H, in King Saud University, Riyadh, KSA
Muhammad Abduh Tuasikal
Do’a masuk masjid dan terlihat masjid sebagaimana terdapat dalam hadits Abu Sa’id:
إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ افْتَحْ لِى أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ. وَإِذَا خَرَجَ فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ
“Jika salah seorang di pada kalian memasuki masjid, maka ucapkanlah, ‘Allahummaftahlii abwaaba rohmatik’ (Ya Allah, bukakanlah pintu-pintu rahmat-Mu). Jika terlihat dari masjid, ucapkanlah: ‘Allahumma inni as-aluka min fadhlik’ (Ya Allah, saya memohon pada-Mu di pada karunia-Mu).” (HR. Muslim no. 713)
Yang dimaksud Maqam Ibrahim, yaitu daerah berdiri Nabi Ibrahim ‘alaihis salam saat membangun Ka’bah, bukan kuburan beliau. Shalat di belakang Maqam Ibrahim jika kondisinya memungkinkan. Adapun jika tidak sangat mungkin gara-gara dipadati oleh orang-orang yan thawaf atau yang mengerjakan shalat, maka boleh shalat di daerah mana pun di dalam Masjidil Haram.
Dalam hadits Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu yang terlalu panjang disebutkan,
فجعل المقام بينه وبين البيت [ فصلى ركعتين : هق حم ] فكان يقرأ في الركعتين : ( قل هو الله أحد ) و ( قل يا أيها الكافرون ) ( وفي رواية : ( قل يا أيها الكافرون ) و ( قل هو الله أحد
“Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan maqom Ibrahim pada dirinya dan Ka’bah, selanjutnya beliau laksanakan shalat dua raka’at. Dalam dua raka’at tersebut, beliau membaca Qulhuwallahu ahad (surat Al Ikhlas) dan Qul yaa-ayyuhal kaafirun (surat Al Kafirun). Dalam riwayat yang lain dikatakan, beliau membaca Qul yaa-ayyuhal kaafirun (surat Al Kafirun) dan Qulhuwallahu ahad (surat Al Ikhlas).” (Disebutkan oleh Syaikh Al Albani dalam Hajjatun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, hal. 56)
HR. Muslim no. 1218.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *