Pelemahan Rupiah Memberikan Keuntungan dalam bisnis Interior Design

Diposting pada

Ilustrasi ruang keluarga

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS tak selalu dominan negatif. Dalam bisnis interior, misalnya. Dari aspek produksi, pelemahan nilai tukar memang menciptakan bisnis ini terpukul. Pasalnya, 70 persen bahan material produk interior yang diproduksi di Indonesia masih impor. Namun, dari segi binsis desain interior, pelemahan itu justru di anggap dapat menyerahkan angin segar. Baca juga: 70 Persen Bahan Material Produk Interior Diimpor “Ketika krisis moneter, seluruh collapse, namun desain malah tidak collapse,” kata Ketua Umum Himpunan Desain Interior Indonesia (HDII) Lea Aziz di Jakarta, Kamis (6/9/2018). Ia beralasan, tak tidak banyak pengusaha yang mengalihkan kantornya ketika krisis moneter terjadi guna menghemat pengeluaran. Ketika urusan tersebut terjadi, seringkali para pengusaha tetap menghubungi desainer interior untuk mengatur kantor baru mereka. “Mereka perlu desainer interior lagi.

Baca juga : peluang usaha kerupuk slondok magelang

Dan kini memang desain interior tersebut tidak di anggap sebelah mata ya bila saya lihat,” tambah Lea. Dalam sebanyak proyek yang dikerjakan pemerintah, laksana gedung perkantoran atau bandara, tak jarang desainer interior dilibatkan di dalamnya. Meski terdapat arsitek yang pun bekerja di dalam kesebelasan tersebut, tetapi mereka melulu bertugas guna mendesain arsitektur bangunan. Sementara, unsur dalam dari tata letak interiornya menjadi tugas desainer interior. Lea bersyukur, eksistensi desainer interior di Indonesia lumayan diperhatikan pemerintah melalui kepandaian proteksi. Hampir semua proyek pemerintah, melibatkan desainer interior lokal. Kendati demikian, bukan berarti desainer lokal tak menghadapi kendala di negeri sendiri. Tidak tidak banyak desainer interior asing yang sekarang mulai masuk ke dalam negeri, laksana dari Malaysia. “Mereka masuk malah ke perusahaan-perusahaan asing (yang terdapat di Indonesia).

Jadi perusahaan-perusahaan asing tersebut percaya pun dengan orang asing. Nah momen ini yang dimanfaatkan mereka,” jelas Lea. Ia pun bercita-cita pemerintah dapat merealisasikan regulasi yang lebih ketat. Dalam urusan ini, pemerintah bisa mencontoh Vietnam, yang menyerahkan aturan ketat untuk desainer asing yang hendak beroperasi di negaranya. “Jadi seluruh yang jadi mitra orang Vietnam tersebut semua mesti memahami tentang building code, mengenai ini, mengenai itu, yang lama-lama akhirnya sebab repot terbit aja,” tuntas Lea.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *